Pertamanya

‘Aku’ merasa apa yang ‘kamu’ rasa

Tapi ‘kamu’ lebih merasa sebab ‘kamu’ yang menanggungnya

‘Aku’ hanya merasa kesedihan dan kedukaan ‘kamu’

Hakikatnya ‘Aku’ tidak berada dalam situasi ‘kamu’

Namun, ‘Aku’ berusaha untuk bersama ‘kamu’

Bersama di saat kita gembira dan di saat kita berduka

 

Keduanya

‘Aku’ harap ‘kamu’ tabah

Semua itu adalah dugaan hidup

Kehidupan ini penuh pancaroba

Mungkin saat ini ‘Aku’ gembira dan ‘kamu’ berduka

Mungkin saat lain ‘Aku’ berduka dan ‘kamu’ gembira

Itulah ketentuan hidup

Kita mampu merancang kehidupan ini dengan baik

Tetapi Maha Pencipta menentukan yang terbaik untuk kita

 

Ketiganya

Kita sudah bersama-sama sejak dulu

Kita sudah melewati pelbagai liku kehidupan bersama

Kita sudah menukilankan hala tuju masa depan

Kita sudah dipertemukan dengan karenah manusia

Kita sudah banyak merentasi sempadan ilmu

Namun di penantian itu

Kita dipisahkan

‘Aku’ dan ‘kamu’ berbeza arah tujuan untuk seketika

Dibezakan untuk ‘kamu’ meneruskan perjuangan

Menurut jejak ‘Aku’ kelak

Kerana ‘Aku’ yakin ‘kamu’ mampu

‘Aku’ harap begitu

 

Terakhir kalinya

Sekali lagi ‘Aku’ tegaskan

‘Aku’ bersama ‘kamu’ saat ‘kamu’ berduka

‘Aku’ hanya mampu menitipkan doa dan harapan

Semoga urusan ‘kamu’ dipermudahkan

‘Aku’ menantikannya

Pasti ‘Aku’ jugalah orang pertama berbangga dengan perjuangan ‘kamu’

Tabahkan hati

Semoga ada jalan yang terbaik untuk ‘kamu’ bersama ‘Aku’

Ikhlas dari ‘Aku’

‘Aku’ sayu kita tidak seiringan

Tapi ‘Aku’ yakin

‘kamu’ akan bersama ‘Aku’

Yakinlah ‘Aku’ pasti menjemputmu

 

Advertisements